Press Release Pengabdian Masyarakat Komunitas Pencinta Bakau : Memulihkan Lingkungan

Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia mengadakan focus group discussion (FGD) dengan para nelayan komunitas bakau di Muara Gembong

Komunitas tersebut tergabung dalam Ekowisata Saung Alas yang diketuai oleh Imam Kombali Safii. Selama bertahun-tahun komunitas tersebut mengembangkan bibit bakau

Bacaan Lainnya

Bibit bakau yang mereka kembangkan juga digunakan untuk pembibitan bakau di banyak tempat. Selain itu, komunitas tersebut juga berupaya untuk melakukan sosialisasi kepada generasi muda mengenai pentingnya tanaman bakau sebagai penghalang abrasi dan pelindung dari gelombang air laut

Komunitas lingkungan seperti ini memiliki peran yang sangat penting karena tanaman bakau memberikan rumah bagi flora dan fauna yang hidup di perbatasan antara air laut dan air tawar (air payau)

Menurut Melani Budianta dan Yudi Bachrioktora selaku pihak dari Universitas Indonesia, Saung Alas menunjukkan contoh nyata bagaimana masyarakat dapat bergerak secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah

Kegiatan yang dilakukan Imam bersama warga Muara Gembong tidak hanya upaya lingkungan tetapi juga merupakan bentuk pengetahuan lokal yang tumbuh dari kebutuhan dan pengalaman hidup sehari-hari

Di Muara Gembong, terutama di Pantai Sederhana, persoalan mangrove dan abrasi pesisir bukan merupakan satu-satunya tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.

Masih ada persoalan lain yang juga penting untuk diperhatikan di Muara Gembong, seperti pendidikan anak-anak, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penguatan kapasitas perempuan pada tingkat komunitas

Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya perlu memperluas perhatian ke bidang lain yang mencakup persoalan-persoalan tersebut

Melalui hasil diskusi dengan warga, terutama para ibu, diketahui bahwa terdapat potensi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi kecil berbasis komunitas. Misalnya, kegiatan budi daya ayam petelur dan pengolahan hasil laut berupa kerupuk ikan.

Menurut mereka kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh kaum ibu ketika bapak-bapak sedang pergi melaut Melalui kegiatan-kegiatan tersebut para ibu dapat melakukan aktivitas kreatif secara rutin di Saung Alas. Dengan demikian, kegiatan ekowisata tidak hanya menjadi kegiatan sesekali, tetapi juga menopang kehidupan ekonomi sehari-hari warga

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Saung Alas

Kolaborasi antara universitas dan komunitas dapat menjadi ruang belajar timbal balik Mahasiswa dapat memahami realitas sosial secara langsung, sementara masyarakat memperoleh manfaat nyata dari pendampingan dan inovasi yang dihasilkan

Imam menyatakan bahwa sejak tahun 1990-an dirinya sudah aktif berupaya mengembalikan mangrove dan bakau di Muara Gembong, tepatnya di Pantai Sederhana.

“Saya menyadari air laut makin sering masuk ke kampung, tanah makin terkikis dan nelayan kehilangan tempat bersandar. Waktu itu saya sadar kalau kami di sini tidak bergerak sendiri, tak akan ada lagi yang tersisa,” kata Imam.

Pemikiran tersebut menjadi awal mula Saung Alas berdiri. Saung Alas tidak berdiri melalui proyek atau bantuan pemerintah, tetapi melalui semangat kolektif warga

Para warga menanam mangrove sedikit demi sedikit menggunakan bibit yang dikumpulkan sendiri dari hutan yang masih tersisa. Pada awalnya warga hanya menanam beberapa ratus pohon sampai akhirnya berlipat ganda menjadi ribuan

Kini warga telah berhasil menghijaukan kembali puluhan hektar kawasan di sekitar Muara Gembong

Selain menanam, warga juga membangun Ekowisata Saung Alas. Tempat tersebut bukan sekadar destinasi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk mengenal pentingnya hutan mangrove, cara menjaga laut, dan kemandirian warga pesisir

Ekowisata Saung Alas dikelola bersama koperasi kecil yang dibentuk oleh warga. Dengan demikian, semua keuntungan yang diperoleh dapat kembali ke masyarakat

“Kami tidak punya modal besar. Tidak ada bantuan alat atau dana hibah. Kami hanya punya tenaga, waktu, dan keyakinan bahwa menjaga alam sama dengan menjaga hidup kami sendiri. Masyarakat kami bergotong royong mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak mudanya semua ikut terlibat. Namun sayangnya hingga hari ini tidak ada kepedulian dari pemerintah pusat ataupun daerah terhadap daerah kami ini,” ujar Imam.

Berdasarkan keterangan Imam, pihaknya sudah berupaya menemui instansi-instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi atau KKP, tetapi tidak mendapat tanggapan

Selain itu, pemerintah desa juga tidak memberi tanggapan apa pun terkait bantuan biaya untuk memperbaiki jembatan kayu yang sangat mempermudah kegiatan sehari-hari warga, termasuk untuk anak-anak bersekolah

“Meski demikian, kami tidak patah arang. Bagi kami kalau alam dijaga dengan hati, dia akan kembali memberi kehidupan—seperti yang sekarang kami rasakan di Saung Alas Muara Gembong,” kata Imam.

Imam berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat menjadi titik awal untuk menjalin kerja sama dengan pihak Universitas Indonesia guna menciptakan kebermanfaatan, baik untuk Saung Alas maupun untuk Universitas InIndonesi

Di samping itu para peneliti juga berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat menjadi penyulut kesadaran akan lingkungan terutama lingkungan bakau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *