Menanti Nyali Polri Mengusut Dugaan Rekayasa Kasus Meigi Alrianda

​Surat terbuka Meigi Alrianda anggota Polres Melawi yang mengaku menjadi korban rekayasa kasus narkoba, penyiksaan, hingga pemerasan oleh sesama polisi, menjadi tamparan keras bagi wajah penegakan hukum di Kalimantan Barat

Kasus ini bukan sekadar urusan internal korps, melainkan ujian bagi komitmen “Polri Presisi” di mata publik

​Ada kejanggalan serius yang mencolok jarak ratusan kilometer antara lokasi penemuan barang bukti dengan lokasi penangkapan Meigi Jika pengakuan tentang intimidasi fisik dan permintaan “uang pelicin” ratusan juta rupiah benar adanya

maka kita sedang melihat praktik hukum yang compang-camping dan cacat moral

​Pengunduran diri Meigi dengan menyerahkan seragam secara sukarela adalah simbol keputusasaan sekaligus protes keras terhadap sistem yang dianggapnya tidak adil

Sikap diam Polda Kalbar atau sekadar menjalankan sidang kode etik tanpa mengusut laporan pelanggaran prosedur justru akan memperkuat dugaan adanya upaya perlindungan terhadap oknum

​Presiden dan Kapolri harus turun tangan Investigasi independen diperlukan untuk memastikan apakah ini murni tindak pidana atau skenario jahat yang disusun oknum berseragam

Polri tidak boleh hanya tajam ke luar, tapi harus berani “bersih-bersih” ke dalam

Jangan biarkan hukum tegak di atas rekayasa, karena itu adalah bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap keadilan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *