PSBM di Mata Erianto: Antara Romantisme Identitas dan Realitas Ketimpangan Peluang

Sebagai pemuda Sulawesi Selatan, sulit untuk tidak merasa bangga melihat Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). Di sana, kita melihat orang-orang dari latar Bugis-Makassar yang berhasil membangun usaha di berbagai daerah, bahkan lintas pulau. Di bawah naungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, forum ini menunjukkan bahwa identitas bukan hanya soal budaya, tapi juga kekuatan ekonomi.

Tapi kalau jujur, rasa bangga itu tidak cukup.

Bacaan Lainnya

Saya melihat PSBM seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia adalah bukti bahwa jaringan dan solidaritas bisa mengangkat banyak orang. Relasi yang terbangun di forum seperti ini nyata bukan sekadar teori. Orang bisa dapat proyek, mitra, bahkan akses yang sebelumnya tertutup.

Namun di sisi lain, tidak semua orang punya pintu masuk yang sama.

Banyak pemuda hanya hadir sebagai peserta, bukan bagian dari lingkaran inti. Kita datang, dengar, foto, lalu pulang tanpa benar-benar terhubung. Sementara yang sudah punya posisi dan modal, mereka yang terus bergerak dan berkembang di dalam forum itu.

Pertanyaannya sederhana:
apakah forum ini memang untuk semua, atau hanya untuk yang sudah “jadi”?

Hal lain yang juga terasa adalah jarak antara cerita sukses di luar daerah dengan kondisi di kampung sendiri. Kita sering dengar bagaimana saudagar Bugis-Makassar berkembang di berbagai kota besar. Tapi di sisi lain, masih banyak anak muda di Sulawesi Selatan yang kesulitan mencari peluang. Ini bukan soal iri, tapi soal realita yang belum seimbang.

Kalau forum ini memang kuat, seharusnya dampaknya juga terasa lebih luas, bukan hanya di lingkaran tertentu.

Saya tidak melihat PSBM sebagai sesuatu yang salah. Justru sebaliknya, ini adalah aset besar. Tapi aset ini akan kehilangan makna kalau hanya berputar di orang-orang yang sama, tanpa membuka ruang bagi yang lain untuk ikut tumbuh.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya siapa yang sudah berhasil, tapi berapa banyak orang yang ikut diberi kesempatan untuk sampai ke sana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *